Kali ini saya memakai matriks 3 x 3...

program hitung_matriks

kamus

type Mat1= array [1..3,1..3] of integer
type Mat2= array [1..3,1..3] of integer
M1: Mat1
M2: Mat2
i,j: integer

procedure input1 (isi1: Mat1)
kamus
algoritma
i traversal [1..3]
j traversal [1..3]
input(isi1[i,j])

procedure input2 (isi2: Mat2)
kamus
algoritma
i traversal [1..3]
j traversal [1..3]
input(isi2[i,j])

procedure output1 (isi1: Mat1)
kamus
algoritma
output('Matriks 1 = ')
i traversal [1..3]
j traversal [1..3]
output(isi1[i,j],' ')

procedure output2 (isi2: Mat2)
kamus
algoritma
output('Matriks 1 = ')
i traversal [1..3]
j traversal [1..3]
output(isi2[i,j],' ')

procedure tambah(isi1: Mat1 isi2: Mat2)
kamus
algoritma
output('Hasil penjumlahan matriks tersebut= ')
i traversal [1..3]
j traversal [1..3]
output(isi1[i,j] + isi2[i,j],' ')

procedure kurang(isi1: Mat1 isi2: Mat2)
kamus
algoritma
output('Hasil pengurangan matriks tersebut= ')
i traversal [1..3]
j traversal [1..3]
output(isi1[i,j] - isi2[i,j],' ')

procedure kali(isi1: Mat1 isi2: Mat2)
kamus
algoritma
output('Hasil perkalian matriks tersebut= ')
i traversal [1..3]
j traversal [1..3]
if (i=1) and (j=1) then
output(isi1[1,1]*isi2[1,1] + isi1[1,2]*isi2[2,1] + isi1[1,3]*isi2[3,1],' ')

else if (i=1) and (j=2) then
output(isi1[1,1]*isi2[1,2] + isi1[1,2]*isi2[2,2] + isi1[1,3]*isi2[3,2],' ')

else if (i=1) and (j=3) then
output(isi1[1,1]*isi2[1,3] + isi1[1,2]*isi2[2,3] + isi1[1,3]*isi2[3,3],' ')

else if (i=2) and (j=1) then
output(isi1[2,1]*isi2[1,1] + isi1[2,2]*isi2[2,1] + isi1[2,3]*isi2[3,1],' ')

else if (i=2) and (j=2) then
output(isi1[2,1]*isi2[1,2] + isi1[2,2]*isi2[2,2] + isi1[2,3]*isi2[3,2],' ')

else if (i=2) and (j=3) then
output(isi1[2,1]*isi2[1,3] + isi1[2,2]*isi2[2,3] + isi1[2,3]*isi2[3,3],' ')

else if (i=3) and (j=1) then
output(isi1[3,1]*isi2[1,1] + isi1[3,2]*isi2[2,1] + isi1[3,3]*isi2[3,1],' ')

else if (i=3) and (j=2) then
output(isi1[3,1]*isi2[1,2] + isi1[3,2]*isi2[2,2] + isi1[3,3]*isi2[3,2],' ')

else if (i=3) and (j=3) then
output(isi1[3,1]*isi2[1,3] + isi1[3,2]*isi2[2,3] + isi1[3,3]*isi2[3,3],' ')

algoritma
input1(M1)
input2(M2)
output1(M1)
output2(M2)
tambah(M1,M2)
kurang(M1,M2)
kali(M1,M2)

Mesin abstrak untuk menghitung kemunculan suku kata yang terdiri dari 3 huruf (OSH)

program cari3huruf;

kamus
jumlah: integer;

algoritma
jumlah <-- 0;
START
while (CC<> '.') do
if (CC='O') then
ADV
if (CC='S') then
ADV
if (CC='H') then
jumlah <-- jumlah + 1
endif.
endif.
endif.
ADV
endwhile.
output(jumlah)



Mesin abstrak untuk menghitung kemunculan suku kata yang terdiri dari 4 huruf (OSHI)

program cari4huruf;

kamus
jumlah: integer;

algoritma
jumlah <-- 0;
START
while (CC<> '.') do
if (CC='O') then
ADV
if (CC='S') then
ADV
if (CC='H') then
ADV
if (CC='I') then
jumlah <-- jumlah + 1
endif.
endif.
endif.
endif.
ADV
endwhile.
output(jumlah)



Mesin abstrak untuk menghitung kemunculan suku kata yang terdiri dari 5 huruf (HEWAN)

program cari5huruf;

kamus
jumlah: integer;

algoritma
jumlah <-- 0;
START
while (CC<> '.') do
if (CC='H') then
ADV
if (CC='E') then
ADV
if (CC='W') then
ADV
if (CC='A') then
ADV
if (CC='N') then
jumlah <-- jumlah + 1
endif.
endif.
endif.
endif.
endif.
ADV
endwhile.
output(jumlah)

1) Buat algoritma program untuk menghitung log (1/x1) + log (1/x2) + log (1/x3) + ... + log (1/xn) !!!

_____________________________________________________________________________________

Program deret_log

{Diberikan x dan n, kemudian dihitung log (1/x1) + log (1/x2) + log (1/x3) + ... + log (1/xn)}

_____________________________________________________________________________________

Kamus

x, n, i :integer

sum, lg: real

_____________________________________________________________________________________

Algoritma

Input(x, n)

Sum ⃪ 0 {inisialisasi}

i 1 {First_Elmt}
while (i<= n) do {EOP}

begin

lg log(1/(x^i)) {Current_Elmt}

sum ⃪ sum + lg

i ⃪ i+1 {Next_Elmt}

end

output(sum)

_____________________________________________________________________________________

2) Buat algoritma program untuk menghitung deret 22+42+62+82+...+n2 !!!!

_____________________________________________________________________________________

Program jumlah_kuadrat_bilgenap

{Diberikan n, dihitung deret 22+42+62+82+...+n2}

_____________________________________________________________________________________

Kamus

I, n, kua, sum: integer

_____________________________________________________________________________________

Algoritma

Output(‘Masukkan bilangan genap’)

Input(n)

If (n mod 2 = 0) then

Begin

Sum ⃪ 0 {inisialisasi}

i 2 {First_Elmt}

while (i<= n) do {EOP}

begin

kua i*i {Current_Elmt}

sum ⃪ sum + kua

i ⃪ i+2 {Next_Elmt}

end

output(sum)

end

else

output(‘Bilangan yang anda masukkan bukan bilangan genap’)

__________________________________________________________________________________________________________________

Sebagai mahasiswa sudah seharusnya kita mepunyai jawaban dari pertanyaan di atas. Hal ini berfungsi untuk menentukan langkah kita ke depan.

Apa perbedaan lulus tepat waktu dengan lulus di waktu yang tepat? Lulus tepat waktu adalah lulus sesuai dengan waktu yang ditentukan oleh institusi tempat kita menuntut ilmu. Misalnya untuk program sarjana waktu yang ditentukan adalah empat tahun dan untuk program diploma adalah tiga tahun. Sedangkan lulus di waktu yang tepat adalah lulus di saat kita sudah menguasai semua materi yang diberikan di perkuliahan dan kita sudah mempunyai bekal yang cukup untuk bersaing di dunia kerja, jadi tidak harus sesuai dengan waktu yang ditentukan oleh institusi. Misalnya untuk program sarjana bisa lulus kurang dari empat tahun, tepat empat tahun, atau bahkan bisa lebih dari empat tahun.

Banyak mahasiswa menginginkan lulus tepat waktu. Memang hal ini mempunyai banyak keuntungan seperti anggaran uang kuliah tidak membengkak atau membuat bangga diri sendiri dan orangtua karena kuliah tidak sampai molor. Tapi apakah dengan lulus tepat waktu kita mampu bersaing di dunia kerja? Hal ini bergantung pada pribadi masing-masing. Bagi mereka yang benar-benar mempunyai kemampuan dan daya saing akan bisa berbicara banyak di dunia kerja kelak. Sedangkan bagi mereka yang hanya lulus secara nilai tetapi kemampuannya belum bisa dikatakan cukup akan gagal bersaing di dunia kerja.

Mahasiswa yang terlambat lulus biasanya dianggap sebagai mahasiswa yang bodoh atau gagal. Anggapan ini sah-sah saja, tapi tidak selamanya hal ini benar. Ada mahasiswa yang terlambat lulus karena dia aktif di organisasi, sibuk mengikuti kejuaraan ilmiah, atau kegiatan positif lainnya. Mereka boleh saja lulus terlambat, tetapi mereka telah mempunyai segudang kemampuan dan pengalaman untuk bertarung di dunia kerja yang belum tentu dmiliki oleh mahasiswa lainnya.

Dari semua itu mungkin yang terbaik adalah mahasiswa yang lulus tepat waktu di waktu yang tepat. Jadi dia lulus tepat sesuai dengan jangka waktu yang telah ditetapkan oleh institusi dan saat itu dia benar-benar telah mempunyai kemampuan yang cukup untuk bersaing di dunia kerja.

Semua orang di dunia ini pasti pernah merasakan kegagalan, dan tidak luput anda pasti juga pernah mengalaminya. Dari setiap orang itu punya cara sendiri-sendiri dalam menyikapi sebuah kegagalan. Dan tidak sedikit orang yang menyikapi kegagalan dengan pesimistis. Ada pula orang yang bersikap optimistis dalam menyikapi sebuah kegagalan untuk melakukan sesuatu yang lebih baik.

Bila anda mencari alasan untuk sebuah kegagalan, anda bisa temukan berjuta-juta dengan mudahnya. Namun, alasan tetaplah alasan. Ia takkan mengubah kegagalan menjadi keberhasilan.

Kerapkali, alasan serupa dengan pengingkaran. Semakin banyak menumpuk alasan, semakin besar pengingkaran terhadap diri sendiri.

Ini menjauhkan anda dari keberhasilan, sekaligus melemahkan diri sendiri. Berhentilah mencari suatu alasan untuk menutupi kegagalan. Mulailah bertindak untuk meraih keberhasilan.

Belajarlah dari penambang yang tekun mencari emas. Ditimbanya berliter-liter tanah keruh dari sungai. Ia saring lumpur dari pasir. Ia sisir pasir dari logam. Tak jemu ia lakukan hingga tampaklah butiran emas berkilau.

Begitulah semestinya anda memperlakukan kegagalan. Kegagalan itu seperti pasir keruh yang menyembunyikan emas. Bila anda terus berusaha, tekun mencari perbaikan di sela-sela kerumitan, serta berani menyingkirkan alasan-alasan, maka anda akan menemukan cahaya kesempatan.

Hanya mencari alasan, sama saja dengan membuang pasir dan semua emas yang ada di dalamnya. Tidak ada gunanya sama sekali jika anda selalu mencari alasan. Alangkah lebih baik jika anda introspeksi diri dalam setiap kegagalan apa yang salah pada diri anda yang menyebabkan kegagalan itu dan tidak akan melakukan kesalahan tersebut lagi.